Singa Subang

Ada yang pernah menonton sisingaan?

Kesenian tradisional asal Subang ini kabarnya merupakan kreasi dari RAF (Raden Ading Affandi), seorang seniman sunda, disekitar tahun 70 an. Ada juga yang mengatakan bahwa kesenian ini sudah ada lebih awal dari itu, yakni dari jaman penjajahan Belanda, dan tandu berkepala singa yang biasanya sepasang itu merupakan simbol perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang berlambangkan dua ekor singa. Yang pasti kesenian ini bisa dikatakan jenis kesenian ‘baru’, bukan kesenian tradisional yang sudah berabad-abad lamanya, karena seperti kita ketahui singa tidak hidup di pulau Jawa.



Kesenian ini biasanya ditanggap jika ada yang merayakan pesta sunatan. Sang pengantin sunat akan dinaikkan ke tandu singa dan diarak keliling kampung.
Satu ekor singa dipanggul oleh 4 orang yang mengangkat tandu dibahu sambil menari. Jumlah tandu singa yang dibawa tergantung pesanan, biasanya disesuaikan dengan jumlah anak yang disunat. Sisingaan ini diiringi kendang yang diikat di tandu bambu, terompet,seorang sinden dan seperangkat sound system dan diesel yang ditarik roda.

Sebelum arak-arakan dimulai biasanya sisingaan ini mengadakan atraksi lebih dahulu. Mereka mengangkat tandu singa keatas dan kebawah, kesamping kiri dan kanan menurut koreografi yang sudah dilatih. Kadang-kadang atraksi ini juga digabung dengan aksi akrobatik. Dalam atraksi ini para pemain mengharapkan ‘sawer’ atau sangu dari penonton, dan aksinya menjadi bertambah hebat jika uang sawer sudah diselipkan.

Atraksi ini mengundang banyak penonton dan pesta sunat dijamin berlangsung meriah.

Comments