Benteng Pertahanan Tenganan

Tenganan Pegringsingan adalah salah satu dari beberapa kampung bali tua yang masih ada di Bali. Kampung lainnya antara lain di Trunyan dan di Nusa Penida. Bali Aga (Bali Tua) ini berbeda dengan daerah Bali lainnya, konon ini adalah Bali sebelum Majapahit menaklukan Bali. Tenganan terletak tidak jauh dari areal pantai Candi Dasa, sekitar 3 km kearah utaranya.

Untuk masuk ke kampung ini kita hanya perlu membayar secara sukarela. Dibagian depan areal parkir berjejer toko-toko suvenir yang menjajakan wadah-wadah dari tanaman mirip rotan kecil yang dianyam (setelah googling ternyata itu dari tanaman ata). Lalu kita memasuki area yang seperti benteng. Didalamnya ada bangunan-bangunan tua seperti bale besar, dan bangunan-bangunan yang lebih kecil. Bale ini masih digunakan sampai sekarang jika ada upacara dan musyawarah. Areal kampung ini menanjak ke utara. Banyak juga sangkar ayam dan ayam petarungnya. Jalanan setapaknya dari batu kali. Selain bertani penduduk disini berpenghasilan sebagai pengrajin.

Tenganan, Bali
Bale kuno

Dipinggir-pinggir benteng menempel rumah-rumah penduduk. Pintu menuju rumah mereka hanya berupa pintu sempit di benteng. Dibaliknya areal rumah agak kebawah, terdiri dari beberapa bangunan. Kebanyakan di rumah-rumah itu menjual barang-barang kerajinan dan tenunan.


tenganan art shop
Pintu rumah yang sempit

Aga village
Bale kuno besar

Di kiri dan kanan jalan setapak berjejer para pengrajin pengukir lontar. Mereka membuat ukiran-ukiran gambar dewi saraswati, ganesa, juga kalender (masehi) dan lain-lain di atas daun lontar. Ukiran dibuat dengan pisau kecil, lalu dibubuhi kemiri bakar untuk pewarnanya.

Lontar engraving in Tenganan Dauh Tukad Bali



Pada waktu-waktu tertentu setahun sekali (sekitar bulan Juni-Juli) mereka mengadakan upacara mekare-kare atau perang pandan. Sayang saya datang bukan dibulan yang tepat. Sepertinya upacara ini seru sekali waktu saya melihat foto-fotonya di flickr.


Tenganan photo

Salah satu kekhasan di sini adalah kain tenun ikat 'gringsing'. Kain ini dibuat dari serat kapas (?) asli bali yang dicelup dengan teknik ikat, lalu ditenun. Benang yang memanjang maupun melintang keduanya di celup dengan teknik ikat sehingga teknik ini disebut dengan 'ikat dobel'. Setelah ditenun dihasilkan kain tenun bermotif yang indah-indah. Harga kain ini bisa puluhan juta rupiah. Pada upacara mekare-kare para generasi muda harus mengenakan ikat gringsing ini.


Tenganan Girls

Bahasa di kampung ini berbeda dengan bahasa Bali luar (Bali Majapahit). Hindu yang dianut juga berbeda karena mereka lebih memuja dewa Indra (dewa perang). Kalau dilihat di kampung ini ukiran-ukiran khas bali tidak ada pada bangunan kuno ini, juga pada benteng. Walaupun pada gerbang-gerbang pintu rumah ada yang sudah menggunakan ukiran Bali umum, tapi tampaknya itu penambahan baru.

gm_01405 Bali, Tenganan Ikat 1983

Penduduk Bali Aga di Tenganan ini sangat menjunjung adat istiadat mereka agar tidak tergerus oleh budaya luar. Mereka menjaga budaya mereka dengan spirit defensif prajurit perang. Ketika Majapahit datang, mereka mundur ke daerah pegunungan, membangun tembok disekitar pemukiman, melarang perkawinan dengan orang luar, dan melarang orang asing untuk bermalam.

Comments