Sampah Bandung, Kemana Perginya?

Kita banyak mendengar jargon: Buanglah sampah pada tempatnya.  Dilarang buang sampah ke jalan.  Dilarang buang sampah sembarangan.  Lalu, kalau sudah kita sudah membuang sampah di tempat sampah, lalu sang sampah duduk manis di tempatnya, kemana perginya? Yang pasti dia dibuang ketempat sampah seharusnya berada, yaitu di………di mana ya?

Setelah sampah di sekolah, rumah, kantor diangkut oleh tukang sampah, dia akan dibuang di TPS atau tempat pembuangan sampah sementara.  Barangkali ada yang pernah lihat tumpukan sampah menggunung didekat pasar atau disekitar lingkungan, ya disitulah tempat sampah seharusnya berada.  Dari situ sampah diangkut lagi ke TPS yang lebih besar, lalu diangkut lagi ke TPA atau Tempat Pembuangan Akhir.  Untuk kota Bandung, Bandung Barat dan Cimahi tempatnya adalah TPA Sarimukti yang terletak diarea Kabupaten Bandung Barat, tepatnya Kecamatan Cipatat.  Berapa banyak sampah yang masuk kesana per harinya? 1200 ton sampah ! Bandung sendiri menyumbang 700 ton perharinya, sisanya dari Cimahi dan Bandung Barat.



Tahun 2005 dibawah Walikota Dada Rosada Bandung pernah mengalami bencana sampah.  Sampah di tempat sampah sementara tidak diangkut sampai menggunung, busuk, berair dan berbelatung. Semua orang mengeluh dan mencaci pemerintah kota.  Kenapa hal itu terjadi, belum banyak yang menyadari.  Waktu itu sampah kota Bandung dibuang ke TPA Leuwigajah  yang terletak di perbatasan kota Bandung dan Cimahi.  Pada tanggal 21 Februari 2005 setelah diguyur hujan selama 3 hari TPA ini longsor dan memakan korban hingga 156 jiwa yaitu penduduk yang tinggal diatas tumpukan sampah.   Saksi mata melihat bola api dari kejauhan dilokasi TPA, kemungkinan besar itu adalah gas metan yang merupakan produk pembusukan sampah yang meledak terbakar.  Akibat kejadian itu TPA tidak dapat digunakan, dan Kota Bandung kelimpungan mencari tempat pembuangan sampahnya.  Lalu didapatlah TPA Sarimukti ini yang jaraknya lebih jauh dari TPA Leuwigajah.

TPA Sarimukti tidak jauh berbeda dalam sistem ‘pengelolaan’ sampahnya.  Kalau dalam system landfill diharuskan melapisi bagian samping dan bawah ‘bak’ sampah raksasa dengan lapisan tanah liat dan plastik supaya cairan lindi tidak mengkontaminasi sumber air, maka TPA ini lebih mirip dengan sistem open dumping, alias buang saja semua kesitu, mau itu organik, plastik, medik, b3 dan lain-lain dan lain lain.  TPA ini ditargetkan masih bisa ‘menampung’ sampah hingga tahun 2015. Dengan adanya TPA ini Bupati Bandung Barat Abubakar sangat bangga karena masyarakat daerahnya rela membantu kesulitan yang dilalui Kota Bandung ketika bencana sampah 2005 terjadi dengan menyediakan lahan di Sarimukti ini.  Untuk kerelaan ini ternyata TPA ini hanya menghasilkan pendapatan sebesar RP 17,850,000 per desa per tahun dari retribusi truk sampah.

Sekarang Kota Bandung yang dengan manis menumpang membuang sampahnya di daerah lain sedang kebingungan untuk mencari alternatif TPA, karena TPA Sarimukti ini walaupun dikatakan masih bisa menampung sampah hingga 2015, seharusnya sudah tidak digunakan lagi sejak 2011.  Selain itu LSM lingkungan hidup sering melakukan demo ditempat itu akibat permasalahan ekologis yang dihasilkan dari TPA open dumping ini.  Jalan keluar yang tengah dilakukan adalah rencana pembuatan PLTSA Gedebage (Pembangkit LIstrik Tenaga Sampah) Gedebage, dan pembukaan kembali TPA Leuwigajah.

PLTSA Gedebage terlihat seperti alternatif terbaik.  Tetapi proyek ini terlihat seperti 'pesta' dari para oknum yang berkepentingan,  akankah menjadi solusi atau hanya menjadi 'proyek bancakan yang menghasilkan asap hitam berpolusi?'.  Lebih baik kalau pabrik pembakaran ini betul-betul difungsikan sebagai pengolahan sampah dengan hasil sampingan listrik.  Teknologi insinerator seperti ini sudah lama d ilakukan di negara-negara Eropa seperti Denmark dan Swedia.

Inilah pekerjaan rumah terbesar dari Walikota Bandung yang baru Ridwan Kamil.  Apakah Bandung akan tetap membuang sampah pada tempatnya (ditanah tetangga)?  Atau, mengolah sampah pada tempatnya? Lebih baik lagi, membakar sampah pada tempatnya, dengan teknologi tinggi yang hasil buangannya rendah dioksin, karbondioksida dan gas-gas beracun lainnya.

Comments