Sungai Di kota Lebih Baik Dikubur Saja, Lebih Bernilai!


Setiap melewati area ini, jantung terasa diremas.  Area ini merupakan jalan ramai yang nama resminya Jl. Terusan Gegerkalong Hilir, setelah melewati Politeknik Bandung.  Jalan berbelok curam kekanan, lalu kebawah, menandakan kita sedang melewati lembah.  Lalu kita akan melewati jalan yang selalu becek dan bolong sebelum menanjak gila-gilaan kearah jalan Sariwangi.  Inilah lembah yang seharusnya tempat sungai mengalir tapi dilalui jalan aspal.  Itulah sebabnya mengapa jalanan ini selalu bolong becek grinjulan... airnya tidak dikasih jalan.  Aliran sungai yang dipaksa mengalah sudah dialirkan melalui saluran, tampak airnya mengalir dari pertigaan itu kearah sungai.  Begitu melihat kekiri dari arah turunan Polban… terlihat sedang ada kegiatan disungai itu yang selalu membuat jantung saya seperti diremas.


Tampak riol riol besar barangkali diameter 1.5 meter (karena dilihat dari jauh, tidak jelas skalanya) sudah dijejerkan disepanjang pinggir sungai.  Nun dikejauhan sudah tampak pekerjaan yang sudah selesai, aliran sungai dibelokkan kedalam roil-riol itu, lalu riolnya diurug tanah.

Tuhan Yang Maha Agung…

Dari google map saya tahu bahwa sungai itu berhulu didesa Cigugur, sehingga kemungkinan besar ini adalah sungai Cigugur.  Sungai ini melewati suatu lembah subur Lebak Cigugur (bisa dilihat di tautan ini tentang Lembah Cigugur) dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat.  Dari beberapa mata air di Cigugur terbentuklah aliran sungai kecil yang mengairi lembah subur ini.  Segala macam hasil pertanian dihasilkan dari daerah Cigugur, yang sudah mulai menjadi daerah wisata dengan adanya Restoran the Peak dan Rumah Stroberi, antara lain.

Lembah Cigugur


Sungai ini setelah melewati areal Gegerkalong dan Setra Duta lalu bergabung dengan aliran sungai Cibaligo, ternyata melintas juga kedalam kota Bandung, tepatnya diarea Jalan Gunung Batu (pinggiran jalan Reungas).  Lalu melintasi wilayah lagi kembali ke Bandung Barat, hingga akhirnya berhilir di Waduk Saguling.

Setahu saya jika sungai melewati antar wilayah yang bertanggungjawab adalah Gubernur, tapi sepertinya sebagian besar sungai ini berada di Wilayah Bandung Barat.  Bandung Barat yang saya lewati hanya terbatas pada area Ciwaruga, Sariwangi dan Cihanjuang, tapi pemandangan yang saya ingat adalah bertumpuknya plastik kresek sampah dibeberapa titik tertentu disepanjang jalan Cihanjuang, tapi anehnya tempat penampungannya ada diatas selokan dengan dialasi bambu.  Apalagi kalau diteruskan hingga kearah Parongpong maka kresek sampah akan bertambah bertebaran dijalan yang berkelak kelok.  Hal ini menimbulkan kesan bahwa pemerintah Kabupaten tidak mempedulikan wilayah ini, yang setahu saya adalah wilayah  yang cukup penting karena menjadi jalan alternatif bagi pelancong yang mau ke Lembang.

Sungai yang menjadi dewi penyelamat para petani dihulunya ini, hanya menjadi pengganggu diarea perkotaan.  Tidak dipedulikan, kalau perlu, dikubur saja.  Lebih bernilai jika areal itu menjadi perumahan!

Apa jadinya kalau manusia melawan alam.  Sedangkan PP Republik Indonesia no 38 tahun 2011 mengatur tentang SUNGAI.  Boro-boro sempadan…. Boro-boro 10 meter kiri, 10 meter kanan… ini mah diurug setelah dibuatin saluran gorong-gorong.  Belum pernah dengar banjir 10 tahunan, 20 tahunan, 50 tahunan?  Ketika aliran sungai mendadak menjadi jauh lebih besar daripada biasanya?

Sebagai rakyat ga jelas yang tidak berdaya, saya hanya bisa trenyuh dan merasakan jantung saya terasa seperti diremas, setiap saya melewati daerah itu.



Sungai sudah diurug, bos!

Jalan air atau jalan mobil?


Gambar Lembah Cigugur diambil dari idworldmapz
Selainnya milik pribadi.

Comments